Posted by: alardhy | November 15, 2008

sekuntum bunga terpelihara

Allah SWT tidak menciptakan wanita dari kepala laki-laki untuk dijadikan atasanya .
Tidak juga Allah SWT ciptakan wanita dari kaki laki-laki untuk dijadikan bawahannya.
Tetapi Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dekat dengan lenganya
untuk dilindunginya, dan dekat dengan hatinya untuk dicintainya.

Allah tidak menciptakan wanita sebagai komplementer atau sebagai barang substitusi
apalagi sekedar objek buat laki-laki. Tetapi Allah menciptakan wanita sebagai teman
yang mendampingi hidup Adam tatkala kesepian di surga. Juga Allah ciptakan wanita
sebagai pasangan hidup bagi laki-laki untuk menyempurnakan hidupnya sekaligus sebab
lahirnya generasi, disamping tunduk dan beribadah kepada Allah tentunya.
Namun mengapa tetap saja ada laki-laki yang tunduk di bawah kaki wanita. Mengemis
cintanya, berharap kasih sayangnya dengan menggadaikan kepemimpinan, bahkan
kehormatan dan harga dirinya. Wanita dipuja bagai Dewa, disanjung bagai Dewi Sinta,
yang banyak menyerbabkan laki-laki buta mata, buta telingga, bahkan buta mata hatinya..
Namun ada juga yang mengaggap rendah wanita. Wanita dinista, dihina. Kesuciannya
dijadikan objek yang tidak bernilai harganya. Tenaganya dieksploitasi bagaikan kuda.
Kelembutannya dijadikan transaksi murahan yang tak seimbang valuenya. Wanita
dijadikan sekedar pemuas nafsu belaka, bila habis madunya, dengan seenaknya di buang
ke keranjang sampah, atau dianggap sandal jepit yang tak berguna.
Jika wanita itu adalah ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, anak kita, relakah kita
melihat mereka menjajakkan diri di gelapnya malam yang mencekam. Relakah kita
melihat mereka membanting tulang mengumpulkan rupiah, ringgit atau real dengan
mayat terbujur kaku sebagai resikonya?
Jika wanita itu adalah ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, anak kita, relakah kita
membiarkannya seolah seonggok jasad hidup yang tidak memiliki nilai guna? Dipajang
sana-sini, kemudian orang-orang tidak bertanggung jawab dapat bebas menyentuhnya?
Jika wanita itu adalah ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, anak kita, relakah kita
membiarkannya beringgas, liar, ganas, tidak berpendidikan, bodoh, dunggu, hanya karena
ketidakmampuan ayah memberi nafkah, karena ketidakmampuan ibu medidik dan
mencintainya, karena ketidakmampuan kita melindunginya, sebagaimana Allah
menciptakan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dekat dengan lengannya untuk
dilindunginya, dekat dengan hatinya, untuk dicintainnya.
Ia tetap wanita, yang diciptakan Allah SWT dengan segala kelebihan dan kekuranganya.
Tidak bisa manusia dengan akalnya yang kerdil ini mengganti kedudukannya apa lagi
fitrahnya. Wanita adalah patner laki-laki dalam mengisi hari-hari. Islam telah
menempatkannya pada posisi yang sangat terhormat, karena setiap jiwa lahir dari
rahimnya.
Memang adalah suatu hal yang sulit mendidik wanita yang berakidah bener, ibadah seeur,
akhlak bageur, berbadan seger, gape’ komputer, dan otaknyapun pinter. Namun bukan
berarti dunia tidak bisa melahirkan wonder women. Sejarah mencatat dengan tinta emas
prestasi kepahlawanan para wanita. Dimulai dari Ummul Mu’minin, Aisyah, Fatimah Az-
Zahra, Cut Nyak Dien, Kartini, dan pada zaman modern ini pejuang wanita terus saja
bermunculan seperti perjuangan Zainab Al-Ghazali, seorang wanita Ikhwanul Muslimin
yang tidak saja kuat fisiknya tetapi juga imannya menghadapi kekejaman pemerintah
tirani di Mesir waktu itu.
Wonder women yang sholehah bagaikan sekuntum bunga terpelihara, tidak semua
kumbang bisa menghisab madunya. Lemah lembutlah memperlakukkanya, karena kata
Rasul yang diriwayatkan oleh Imam Muslim “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya
perhiasan dunia adalah wanita shalehah”.
***
Sudah habis masanya bagi perempuan hidup terhina. Sudah berlalu awan kelam yang
senantiasa menyelimuti gadis-gadis kecil tak berdosa yang dikubur hidup-hidup hanya
karena ia berjenis kelamin perempuan. Sejak cahaya Islam menyinari bumi melalui
tangan seorang rasul, perempuan menempati tempat yang terhormat. Adalah suatu
kesalahan sejarah, jika dikatakan bahwa kebangkitan harga diri dan kehormatan
perempuan dimulai sejak terbitnya buku habis gelap terbitlah terang.
Sebagai makhluk yang sama-sama mengabdi kepada Allah, perempuan dan laki-laki
memiliki hak dan kewajiban yang sama. Bahkan lebih jauh, ada pekerjaan yang tidak
dapat dikerjakan oleh-laki-laki. Hanya wanita saja yang dapat melakukan pekerjaan ini. .
Mengandung, melahirkan, menyusui, adalah fitrah yang tidak dapat dielakkan walaupun
dengan teori dan argumentasi apapun. Namun tidak ada pekerjan laki-laki yang tidak
dapat dikerjakan oleh wanita. Semua pekerjaan laki-laki dapat dikerjakan oleh wanita
saat ini. Tetapi apakah laki-laki bisa mengandung, melahirkan, menyusui? Inilah fitrah
yang tidak dapat dielakkan, bahwa wanita memiliki bagian special dalam episode
kehidupannya.
Sejarah Indonesia mencatat perjuangan seorang gadis bernama Kartini untuk hak-hak dan
persamaan derajat kaumnya dengan laki-laki.. Tradisi Jawa yang feodal waktu itu amat
sangat merugikan kaum wanita. Tidak diperkenankan mengenyam pendidikan adalah
puncak kekecewaan Kartini terhadap diskriminasi terhadap wanita yang sesungguhnya
sudah sejak lama dibebaskan Islam melalui lisan Rasulullah. Karena beliau waktu itu
berkiblat pada Eropa, Kartini menganggap Eropa merupkan atmosfir baru yang patut
dijadikan rujukan terhadap kebebasana perempuan dari kukungan tradisi Jawa yang
kurang menghargai wanita.
Perempuan memiliki hak mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang sejajar dengan
laki-laki. Karena mendapatkan ilmu adalah hak setiap insan di muka bumi ini. Kartini
pernah mengirim surat kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902, “Kami di sini
memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekalikali
karena kami mengingginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki
dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruh yang besar sekali
bagi kemajuan yang diserahkan alam sendiri ke dalam tanganya, menjadi ibu, pendidik
manusia yang pertama-tama”
Bila kita perhatikan, tuntutan utama Kartini adalah diberikannya kesempatan bagi kaum
wanita untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Karena memang waktu itu yang
berhak mendapatkan pendidikan hanya laki-laki, itupun terbatas pada anak-anak kaum
ningrat, pejabat pemerintah dan Belanda. Kartini yang masih berdarah ningrat saja masih
terbatas mendapatkan pendidikan, apalagi dengan perempuan rakyat jelata? Karena
Kartini yang cerdas menyadari pendidikan akan memberikan pengaruh yang besar bagi
wanita untuk mengembangkan potensi yang telah diberikan alam kepadanya.
Pada zamannya, pendidikan bagi anak perempuan amat minim sekali. Hal ini
menyebabkan Kartini ingin mendobrak tradisi tersebut dan mengharapkan adanya
perubahan adat yang sangat feodal dan mengukung kebebasan. Kartini ingin agar
kaumnya pada zaman Belanda itu mendapatkan kesempatan untuk maju, salah satu cara
adalah dengan mendapatkan pendidikan yang sama dengan apa yang didapatkan laki-laki.
Karena tidak dapat dipungkiri, ibu adalah madrasah pertama yang akan mendidik anakanak
menjadi manusia-manusia yang kelak akan menjadi pemimpin negeri ini.
Namun sayang, kaum feminisme tidak utuh mendeskripsikan keinginan dan cita-cita
Kartini. Cita-cita murni dan mulia itu hanya ditafsirkan sebatas persamaan derajat.
Mereka bahkan lebih sempit menafsirkan cita-cita Kartini dengan persamaan disegala
bidang tanpa menghiraukan kodrat keperempuanan yang tidak bisa dipungkiri jelas akan
berbeda dengan laki-laki. Jika persamaan derajat yang dituntut, jauh sebelum Kartini
lahir, Islam telah mengangkat derajat wanita ke tempat yang paling terhormat, bahkan
seluruh isi alam ini tidak ada artinya dibandingkan seorang wanita yang sholehah, begitu
Rasul mengatakan.
Sebelum wafatnya Kertini sempat mempelajari Al-Quran. Pelajaran yang hanya sebentar
ia dapatkan itu menyadarkannya bahwa betapa selama ini ia telah salah memandang
Eropa yang selalu diagung-agungkannya sebelum ia mendapat hidayah Allah.
Hal ini terungkap dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tanggal 27 Oktober 1902,
“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar
satu-satunya yang paling baik tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah Ibu sendiri
menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa dibalik
hal yang indah dalam masyarakat Ibu, terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak
patut disebut peradapan?
Surat yang cukup pedas ini Kartini sampaikan karena akumulasi kekecewaanya pada
masyarakat Eropa yang selama ini ia anggap terhormat. Tidak ada satu masyarakatpun
yang lebih menghargai keberadaan perempuan kecuali Islam.
Itulah Kartini, perempuan yang cerdas, kritis dan bisa membedakan mana yang
merupakan peradapan, dan mana yang tidak. Perkenalannya yang hanya sebentar dengan
Al-quran, telah mengembalikan aqidahnya yang hampir terlumuri oleh teori temantemanya
dari Eropa dan Barat yang jauh dari nilai-nilai Islam, berpandangan
materialistik, menganggap kaum perempuan pribumi bodoh, padahal merekalah yang
menciptakan situasi tersebut.
Surat Kartini kepada Ny. Abendanon tanggal 12 Oktober membuktikan itu, “Dan saya
menjawab, tidak ada Tuhan kecuali Allah, kami mengatakan bahwa kami beriman
kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia, jika
sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang, bukan manusia”.
Subhanallah, Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan mencabut
hidayah dari siapa yang dikehendaki-Nya. Beruntunglah Kartini, diakhir hayatnya Allah
menunjukinya jalan yang benar, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhamad adalah
utusan Allah. Wanita diciptakan Allah dari tulang rusuk laki-laki untuk menjadi patner
khalifah di muka bumi ini. Dan Rasul telah membebaskan perempuan dari kukungan
jahiliyah yang merendahkan martabat wanita, sehingga kerjasma itu dapat dilaksankan
dengan baik.
Jika Kartini pada akhir hayatnya ingin kembali kepada cahaya Allah, dan melupakan
teori Barat dan Eropa, mengapa kita masih meragukan kesempurnaan ajaran Islam?.
Kembalilah kepada fitrah yang telah Allah berikan kepada wanita, sebagai istri yang
meneguhkan pijakan kaki suami, sebagai ibu, pendidik pertama bagi pertumbuhan dan
perkembangan anak-anaknya. Tak ada yang lebih berharga dalam hidup ini, jika kita
memiliki keluarga yang harmonis, suami yang sholeh, istri yang sholehah, anak yang
sholeh, sehat dan cerdas, yang disinari cahaya Islam, semua itu tiidak lepas dari kreasi
tangan wanita.
Saat ini yang perlu kita lakukan adalah menciptakan generasi kreatif, inovatif, prestatif,
edukatif dan produktif. Adalah sebuah mimpi hal itu terwujud jika tidak dilukis oleh
tangan-tangan lembut wanita. Untuk mewujudkan itu, tidak lain hanyalah wanita
sholehah yang berilmu, berakal dan bertaqwa yang dapat melakukannya.
Wanita sholehah adalah sekuntum bunga terpelihara. Tidak mudah bagi kumbang
mengisap madunya. Dalam dirinya tersimpan potensi kepahlawanan yang akan membawa
ummat pada puncak peradaban terhormat. Wanita sholehah akan terus membuktikan
prestasi kepahlawannya. Apakah keluarga kita yang perempuan termasik dalam
bagiannya?


Responses

  1. Assalamu’alaikum
    Subhanallah,
    Artikelnya bagus dan sangat bermanfaat.
    hanya mungkin perlu dirapikan lagi sedikit, tulisannya.

    Salam ukhuwah sari Annisaa GAMAIS pusat ^__^

    SMANGAT!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.